Minggu, 30 Oktober 2016

Jelang AFTA, SAS Giat Edukasi Para Pemain e-Commerce

Riset yang diprakarsai oleh Indonesia E-Commerce Association (idEA), Google Indonesia, dan TNS (Taylor Nelson Sofres) menunjukkan bahwa pertumbuhan e-commerce di Indonesia kian menjamur. Hal itu ditandai dengan meningkatnya aktivitas transaksi online oleh masyarakat. Tahun 2013 misanya, nilai bisnis e-commerce Indonesia mencapai US$ 8 miliar atau Rp 94,5 triliun. Tahun 2016 diprediksikan meningkat 3 kali lipat, menjadi US$ 25 miliar atau Rp 295 triliun.
SAS
Demi makin membesarkan pasar e-commerce di Tanah Air, Desember ini idea menggelar seminar bertajuk “Indonesia E-Commerce Menuju AFTA 2015: Strategi Bersaing di Pasar Global”. Dalam kesempatan itu, SAS–perusahaan software dan layanan business analytics—turut berpartisipasi menjadi salah satu pembicaranya. Momentum itu dimanfaatkan SAS untuk memengedukasi para pemain e-commerce lewat solusi SAS® Adaptive Customer Experience.
“Solusi yang kami tawarkan adalah suatu langkah bagi pemaine-commerce untuk memanfaatkan apa yang mereka ketahui tentang konsumen, seperti profil pelanggan yang lengkap berdasarkan data yang didapat dari online dan offline. Hal itu dimanfaatkan untuk menciptakan sebuah strategi yang lebih relevan, dengan target yang tepat lewat komunikasi yang sifatnya lebih personal,” ungkap Hendrayana Kartiman, Pre-Sales Manager SAS Indonesia.
Melalui seminar itu, para pemain e-commerce Indonesia juga diajak untuk lebih memahami mengenai AFTA dan implementasinya, tantangan dan kesempatan, serta belajar dari para pemain e-commerce yang sudah berorientasi ke pasar global.
Ditambahkan Hendrayana, tantangan dalam dunia e-commerce, yakni mengubah kebiasaan konsumen agar menjadikan e-commerce sebagai pilihan utama mereka dalam berbelanja, dibandingkan dengan menjelajah halaman internet hanya untuk meriset barang-barang yang ingin mereka beli secara offline. Tantangan lainnya berasal dari kompetisi yang ketat dari pemain e-commerce lokal dan asing, untuk tetap dapat bertumbuh dan membangun loyalitas. “Untuk itu, para pemain harus mampu memberikan penawaran yang tepat dan menarik konsumen e-commerce,” tandasnya.
Pemain e-commerce juga dapat memanfaatkan solusi SAS® Marketing Automation guna menjawab permasalahan mengenai penentuan target segmen yang dituju; memprioritaskan mengenai pemilihan saluran komunikasi yang tepat; menentukan jadwal serta mengeksekusi kampanya; menganalisis hasil kampanye dan dengan mudah membuat menyesuaikan untuk kampanye selanjutnya. “Solusi itu memiliki keunggulan untuk meningkatkan jumlah pengulangan pembelian, meningkatkan jumlah konsumen, serta untuk memberikan kembali hasil investasi yang telah dilakukan,” tutupnya.

Sabtu, 22 Oktober 2016

Bata Makin Agresif di Segmen e-Commerce

Fesyen memang masih menjadi kategori paling seksi di pasar belanja online. Kebiasaan konsumen Indonesia yang mulai berbelanja produk fesyen di situs belanja online juga ditangkap secara serius oleh manajemen Bata. Oleh karena itu, sejak Januari 2014, Bata mulai mendistribusikan produk alas kakinya di situs belanja online.
IMG_20160602_2550
Diterangkan Imran Malik, Presiden Direktur PT Sepatu Bata Tbk, “Pada tahun pertama menggunakan situs belanja online, Bata menggandeng situs belanja online B2C (Business to Consumer–red) Zalora.”
Dari 5.000 pasang alas kaki yang Bata siapkan pada situs belanja online Zalora, tak kurang dari 1.000 pasang berhasil terjual. Itu artinya, di tahun 2014, Bata sanggup memperoleh Rp 2 miliar dari penjualan di situs belanja online Zalora.
Tahun 2015, Bata kian serius menggarap pasar belanja online. Yakni, dengan menggandeng 10 situs belanja online di Indonesia–baik yang B2C seperti Zalora, C2C (consumer to consumer) seperti Tokopedia, hingga market place seperti Lazada dan MatahariMall.com. Dengan menggandeng sepuluh situs belanja online tersebut, Bata sanggup mencapai penjualan sebesar Rp 3 miliar.
Oleh karena itu, tahun 2016 ini, Bata optimis mematok penjualan dari situs belanja online mencapai Rp 4,6 miliar. “Target kami di tahun 2016 ini, penjualan lewat situs belanja online dapat menyumbang 10% dari total penjualan Bata,” target Imran, yang menyebutkan bahwa Bata tengah menggodok e-Commerce sendiri lewat situs belanja online www.bata.co.id dan berencana diluncurkan pada tahun 2016.
Ditambahkan Hadi Yundha, E-Commerce Buyer Bata, tahun 2016 ini Bata akan mulai menerapkan konsep O2O, Online to Offline atau Offline to Online. “Kami akan menawarkan kepada pelanggan Bata konsep O2O. Dengan konsep Online to Offline, pelanggan bisa melihat produk yang mereka ingin beli di situs belanja online, untuk kemudian mengambil produknya di gerai-gerai Bata. Sementara itu, untuk konsep Offline to Online, pelanggan dapat melihat dan memilih produk alas kaki yang mereka inginkan di gerai Bata, untuk kemudian membayar via online,” tegasnya.

Sabtu, 15 Oktober 2016

Inilah 4 Tren e-Commerce 2016

Lima Alasan Mengapa Perusahaan Harus Menjalankan Offline Community Strategy


Kendall Cramm dalam artikelnya yang berjudul “5 Reasons You Need to Execute an Offline Community Strategy” mengungkapkan bahwa saat ini banyak praktisi marketing yang berbicara banyak tentang pentingnya membangun komunitas online dan strategi untuk engage dengan para followers. Namun di sisi lain teknologi telah membuat manusia cenderung lebih bersifat anti-sosial, setidakanya di dunia offline. Manusia moderen saat ini seakan mengalami adiksi terhadap telepon/tablet/dan komputer, yakni selalu menggunakan perangkat-perangkat tersebut untuk mengupdate semua informasi secara online, sehingga sering kali mereka lupa bahwa sebenarnya ada dunia fisik yang bermakna di sekitar kita. Dalam kehidupan personal hal ini merupakan pilihan. Untuk brand, merupakan hal penting untuk tidak hanya menunjukkan sisi “human” di ranah online namun juga offline.
Pentingnya
Perusahaan harus tetap menjalankan offline community strategy ditengah maraknya online marketing
Kenapa Anda Butuh Sebuah Strategi Offline?
1. Hubungan Relasi dengan Konsumen Menjadi Nyata
Merupakan hal yang sulit untuk mengetahui kepribadian orang melalui e-mail atau post. Sebuah pertemuan tatap muka dapat memperdalam ikatan dan hubungan antara pihak brand dengan konsumen. Hal ini dapat menjadi investasi yang sangat baik untuk kesuksesan brand Anda.
2. Koneksi yang Lebih Dalam
Meskipun Anda dapat bertemu orang dan berbagi kepentingan melalui online, sebuah pertemuan tatap muka sekali lagi memliliki kekuatan ajaib yang spesial. Ketika brand membatasi percakapan mereka dengan audiens hanya melalui dunia online, sering kali mereka lupa bahwa audiens yang berinteraksi dengan mereka penuh dengan sisi kemanusiaan, yakni memiliki banyak layers dan faset.
3. Lebih Bersifat Toleransi dan Saling Menghargai
Orang-orang terkadang dapat bersembunyi di balik komputer mereka ketika memposting konten negatif. Jika Anda menyempatkan waktu untuk mengenal orang secara personal maka mereka juga akan memandang Anda sebagai manusia, sehingga akan lebih sulit bagi mereka untuk bersifat negatif kepada seseorang yang baru memulai hubungan dengan mereka.
4. Feedback yang Lebih Baik
Anda akan banyak memperoleh feedback dari komunitas online jika Anda mengumpulkannya, namun mengobservasi respon komunitas offline terhadap kampanye atau brand Anda merupakan hal yang tidak ternilai. Dengan berinteraksi kepada komunitas offline, Anda akan dapat mengetahui apa yang menyebabkan orang-orang loyal terhadap brand dan mengapa mereka mencari value di dalam komunitas yang Anda bangun.
5. Meningkatkan Engagement Online
Jika Anda memberikan experience offline yang baik bagi para anggotanya, mereka akan mau untuk engagelebih jauh dengan Anda dan orang lain yang mereka temui. Mereka bahkan akan lebih merasa termotivasi untuk menjawab pertanyaan di forum Anda atau berbagi konten yang sifatnya user-generated, dan melihat Anda tidak hanya sekedar robot komputer.

Usai Pencarian Online, Konsumen Pilih Transaksi di Online atau Offline?

Meski tren belanja online atau e-commerce tampak meningkat pesat, namun industrinya masih memasuki tahap awal. Merujuk Consumer Barometer 2015 (Local Report), ternyata pembelian atau transaksi yang dilakukan konsumen Indonesia di online baru mencapai 7%. Sementara 93% orang Indonesia masih transaksi di offline.
Hal menarik lainnya yang perlu dicermati oleh pemasar atau pengeloal merek adalah kebiasaan konsumen Indonesia sebelum melakukan pembelian. Ada 25% responden yang melakukan pencarian informasi di online terlebih dahulu, sebelum mereka membeli. Dari angka itu, 19% masih memilih melakukan transaksi di offline, sedangkan yang memilih transaksi di online hanya 6%.
Tak mengherankan, jika pakar marketing di Indonesia asal MarkPlus, Hermawan Kartajaya, senantiasa menganjurkan para pemasar untuk mengusung konsep O2O (Offline to Online atau Online to Offline). Menurut Hermawan, di antara keduanya—Online dan Offline—harus saling terintegrasi.
Berdasarkan konsumen yang memilih melakukan riset online untuk kemudian melakukan transaksi di offline, ternyata ada lima jenis industri yang menempati posisi tertinggi. Kelimanya adalah asuransi mobil (38%), tiket bioskop (37%), laptop (36%), hotel (35%), dan penerbangan (33%).
Sementara itu, berdasarkan konsumen yang memilih melakukan riset online terlebih dahulu, untuk selanjutnya memutuskan transaksi (pembelian) di online, maka tertinggi pertama adalah industri penerbangan (23%). Kemudian, diikuti oleh industri musik (19%), pakaian dan sepatu (13%), mobile phone (12%), hotel (12%), dan travel (8%).
Hasil survei itu juga mengungkapkan bahwa brand-brand yang mudah ditemukan di online berpotensi untuk dibeli konsumen. Dan, delapan dari sepuluh konsumen Indonesia mengaku hanya mempertimbangkan satu hingga dua brand sebelum mereka melakukan pembelian. Oleh karena itu, penting bagi pemasar untuk tetap menjadikan brand mereka top of mind di benak konsumen.

online customer ok


Kamis, 13 Oktober 2016

Hermawan Kertajaya: Trend Marketing 2016 adalah O2O

 Menurut CEO and Founder MarkPlus Hermawan Kertajaya, trend di 2016 adalah kolaborasi strategi antara offline to online dan online to offline serta jangan takut dengan invasi asing ke pasar Indonesia baik service maupun produk.
Hermawan mengingatkan tentang perubahan customer path di era konektivitas seperti sekarang ini. Ini yang disebut dengan 5A, yakni Aware, Appeal, Ask, Act, dan Advocate. Untuk sampai pada advokasi, Hermawan mengatakan pemasar harus memahami online-offlinestyle-substance, serta machine-to-machine (M2M) denganhuman-to-human (H2H).
Menurutnya, bentuk pemasaran online tidak bakal menggantikan offline. Sebaliknya, offline akan menjadikan relasi online semakin intim. Sementara itu, agar menarik, perusahaan harus memiliki style. Tetapi, style saja tidaklah cukup. Yang lebih penting adalah substance, apalagi masyarakat konsumen saat ini sudah makin cerdas berkat konektivitas. Case study paling mutakhir adalah bagaimana perkembangan Gojek, Tokopedia, MatahariMall.com, dan berbagai startup lainnya membangun bisnis dan ekosistem, tapi tidak lupa untuk tetap menerapkan offline activity.
Hermawan menuturkan, menghadapi AEC yang diperlukan adalah repositioning dan membuka luas segmen agar tidak kalah dengan “pendatang” dari berbagai negara ke Indonesia. “Driver Vietnam sudah siap untuk menjadi driver taksi di Jakarta, bahkan beberapa diantaranya menguasai bahasa Jawa.”